KEGUGURAN BERULANG

Tulisan ini bukan sebuah tulisan ilmiah dari sebuah jurnal. Murni hanya pemaparan pengalaman pribadi.

Setelah kelahiran anak pertama secara SC plus pengambilan kista 15 cm di ovarium kanan dan 7,5 cm di ovarium kiri, saya telah hamil lagi sebanyak tiga kali berturut-turut yang berakhir dengan keguguran. Ketiganya di usia kehamilan 8 minggu. Keguguran pertama di bulan Juni 2010, keguguran kedua Juni 2011 dan terakhir Desember 2011, walaupun telah memakai 2 macam obat peguat kandungan yang cukup menguras kantong.

Trauma tentu saja. Apalagi sebenarnya ada vonis dari dokter bahwa saya ga mungkin hamil lagi karena ovarium saya telah rusak.

SUBHANALLAH, ALLAH SWT yang MAHA PENGASIH dan MAHA PENYAYANG, saya masih diberi kesempatan hamil lagi. Trauma saya justru membuat saya penasaran browsing sana sini agar pengalaman buruk tidak berulang di kehamilan sekarang.

Dari sebuah milis ASI di FB, saya mendapat pengetahuah tentang hadist RASULULLAH SAW mengenai kurma untuk ibu hamil. Tujuh kurma di pagi hari, tujuh kurma di siang hari dan tujuh kurma di malam hari. Karena ingin sekali sehat, dibela-belain lah beli Ajwa. Bagus tapi mahal. Hanya bisa beli setengah kilo aja. Lalu untuk selanjutnya saya minum sari kurma (tapi yang dalam jerigen dari Arab). Selanjutnya setelah masuk trimester kedua, saya hanya makan kurma biasa.

Selain itu seminggu sekali saya terapi totok kaki di Kemanggisan. Sakit, tapi ALHAMDULILLAH, berdampak baik. Tidak ada lagi keputihan dan flek.

Dari salah satu milis FB tentang Gentle Birth, saya menemukan blog salah satu adminnya. Blog Bidan Kita. Salah   satu tulisan di blog tersebut membahas tentang keguguran berulang. Dari sana saya belajar relaksasi, Makin rajin berdzikir lengkap dengan sugesti positif bahwa kandungan ini akan kuat. Bukankan ALLAH SWT sesuai dengan persangkaan hamba-NYA ?

ALHAMDULILLAH, ketiga upaya ini membuat kandungan saya sehat sampai sekarang. Tanpa obat-obatan dan tetap jalan kaki, naik Transjakarta dan angkot untuk pergi-pulang kantor.

Semoga pengalaman ini bisa menyemangati orang-orang yang memiliki pengalaman seperti saya.

Kursi Prioritas

Penumpang bus Trans  Jakarta pasti paham dengan judul tulisan di atas. Empat buah kursi prioritas untuk penumpang prioritas (manula, ibu hamil dan orang yang membawa anak kecil). Ada stiker besar di atas keempat kursi tersebut.

Tapi beda dengan di Luar Negeri yang orang-orangnya memiliki kesadaran tinggi, dimana kursi akan dibiarkan kosong jika penumpang tersebut tidak termasuk kriteria penumpang prioritas. Mereka tetap berdiri walau empat kursi tersebut kosong.

Bagaimana dengan di Jakarta? Kursi tersebut akan langsung diduduki siapapun yang masuk ke Trans Jakarta. Ga peduli dia adalah pria muda dan kekar. Parahnya lagi ga semua petugas Trans Jakarta yang berani negur para penumpang tersebut duduk di kursi prioritas walau jelas tampak ada ibu-ibu tua dan perempuan hamil di dekat mereka.

Ini menjadi PR saya tiap hari. Mengatur strategi agar dapat duduk di bus Trans Jakarta. Pengalaman keguguran 3x berturut-turut jelas membuat saya harus lebih berhati-hati. Dari awal kehamilan kali ini samapi sekarang (17 minggu), strategi harus dipasang. Perut yang belum terlalu terlihat membuncit membuat ga banyak orang tahu kondisi kehamilan saya. Bahkan untuk mendapat tempat berdiri yang bisa menyandarkan badan aja, (walau sudah bilang kalau saya bumil), tetap aja dengan pandangan sebel dari orang-orang tersebut (#khususnya pria muda yang ga pengalaman punya istri hamil kali ya#).

Strategi yang saya pasang adalah berangkat sangat pagi dan terus berdzikir agar dimudahkan ALLAH SWT untuk mendapat tempat duduk. Sepanjang jalan. Strategi berikutnya berusaha mendapat antrean di depan, agar saat bus berhenti, saya bisa segera mencari kursi kosong.

Pulang kantor pun jauh sebelum jam bubaran kantor. Paling  telat jam 15.15 saya sudah bergegas ke halte. ALHAMDULILLAH, bersyukur strategi ini banyak suksesnya.

Namun saya berharap, jika pemerintah ingin makin banyak orang beralih ke kendaraan umum, kondisi seperti ini kiranya bisa diatasi demi kenyamanan penumpang. Waktu kedatangan antar bus juga jangan terlalu lama agar tidak semakin banyak penumpang berdesakan di halte. Jika kondisi ini tidak segera diatasi ,wajar kiranya makin banyak orang yang enggan beralih ke kendaraan umum.

 

Belajar Menempatkan Diri Sebagai Hamba ALLAH SWT

Belajar menempatkan diri sebagai hamba ALLAH SWT ini yg saya maksudkan dalam curhat kali ini. Benar-benar curhat tentang diri sendiri dan tidak ada maksud setitik pun untuk menyinggung orang lain.

Terlahir dari keluarga yg belajar agama seadanya, ngaji membaca Al Qu’an, sedikit fiqih dan akhlaq, tapi ga ketat melaksanakan perintah ALLAH SWT secara kaffah (CMIIW please kalau salah ejaannya), membuat saya terkaget kaget setelah menikah. Rupanya ini rahasia ALLAH SWT memilihkan suami untuk saya. Suami bukan tipe pemarah bahkan cenderung humoris. Tapi…kalau perkara melalaikan hak ALLAH SWT, duh benar-benar dia sangat marah. Hal yang (tadinya) saya anggap berlebihan, Contohnya jika saya sholat tidak tepat waktu (padahal baru 1 jam setelah adzan Ashar berkumandang. Asli dia sangat-sangat marah.

Dibandingkan dirinya, saya akui saya bagaikan anak yg baru belajar agama. Sebelum adzan berkumandang di tiap sholat 5 waktu, suami saya selalu mandi, memakai pakaian terbaiknya dan wangi-wangian dan cerah ceria ke Masjid. Padahal kalau ke tempat lain, dia ga akan mau pakai wangi-wangian dan baju terbaik.

Lalu masalah kebiasaan saya nonton televisi sampai malam, sehingga saya belum rapi pas adzan Subuh berkumandang, padahal dia sudah rapi wangi, sudah Sholat sunnah dan siap ke Masjid,wah bisa tak ada ampun, teguran keras bahkan sajadah sudah dia gelar untuk saya dan pasti dibangunkan paksa. Dan akan marah kalau jam 5 belum Sholat Subuh karena buat dia sholat ya harus teng tong setelah adzan berkumandang.

Bahkan sampai memeriksa jadwal membaca Al Qur’an. Menempatkan sebagai hamba ALLAH SWT itu ternyata kuncinya dan kok ya bisa pas dengan tema ceramah Shubuh di TV pagi ini. Di ceramah pagi ini Sang Ustadz mengatakan kalau kita ikhlas beribadah pada ALLAH SWT, maka kebutuhan kita pasti akan ALLAH SWT penuhi/cukupkan walau kita miskin dengan cara yg kita ga sangka(CMIIW). Ikhlas menempatkan diri sebagai hamba ALLAH SWT , itu PR yg masih harus saya kerjakan.

Debat Suami Isteri Mengenai Pilihan Sekolah Anak, Bagian Kedua (12 Desember 2010)

Tadinya sempat tenang sejenak setelah menyepakati anak harus masuk I’daad yg dikelola Ustadz Yusuf Mansyur setelah dia tamat SD. Namun dalam silaturrohiim ‘Iedhul Fithri kemarin muncul perdebatan baru.

Diawali cerita sepupu suami yg anaknya dipesantrenkan dari kecil. Si anak kelas 2 SD aja sudah hafal 2 juz& SUBHANALLAH, rezeki orang tuanya pun jadi berlimpah dengan rahmat ALLAH SWT. Suami bilang hal itu jadi contoh, bahwa ALLAH SWT pasti meberi berbagai kemudahan kalau kita menempatkan anak kita di jalan ALLAH. Cuma sebagai ibu, jok saya ga tega ya, jauh dari anak yg masih SD pula.

Mulailah saya bergerilya mencari SD yg bisa memenuhi kriteria kami berdua tanpa anak harus dipesantrenkan dari SD. Ketemulah sebuah SD, yg 1 kelas 2 guru, menerapkan pendidikan berdasarkan masa tumbuh kembang anak, tiap tahun anak hafal 1 juz, dan di kelas 5 SD bisa bikin paper dalam bahasa ARAB’dan hafal minimal 100 hadist termasuk 40 hadits Arbain (betul ga ya nulisnya?).

ALhamdulillah, ternyata di suatu semiar pendidkan anak ,saya ketemu orang tua yg menyekolahkan anaknya di SDIT yg lagi saya cari infonya. Dan positif, guru-gurunya persuasif dan suasana belajar katanya menyenangkan. Suami pun kali ini setuju apalagi lokasinya ga jauh dari kantor saya. ALHAMDULILLAH, satu masalah disepakati solusinya, tinggal mulai berinvestasi untuk pembiyaannya. Untuk pemilihan investasi muncul debat baru, yg InsyaALLAH, ada solusinya:)

Debat Suami Isteri Mengenai Pilihan Sekolah Anak (12 Desember 2010)

Memang anak kami masih kecil. 2 tahun awal tahun depan, namun perdebatan kamu selaku orang tua terhadap pilihan sekolah sudah dimulai dari usianya 1 tahun. Perdebatan dipicu karena keinginan berbeda (yg juga dipicu latar belakang berbeda jauh). Suami inginnya anak di sekolah umum aja,yg pakai BOS, SMP baru dipesantrenkan. Sedang saya yg dari kecil sampai kuliah, ALHAMDULILLAH, selalu di sekolah negeri favorit, ngotot anak mengikuti jejak saya.

Lalu suami bilang,”Kita tetap harus orientasi pendidikan untuk bekal akhirat, karena dia nanti yg akan’mendoakan kita kalau kita sudah meninggal.” Jadi malah suami ingin anak ke sekolah berbasis agama atau ke pesantren. Mungkin mengingat saya juga bukan seorang ibu yg bisa menjadi madrasah yg baik bagi anak. Masalah tidak absen pengajian,baca Al Qur’an tiap hari termasuk dengan tadjwid yg benar saja saya masih harus diabsen suami secara rutin.

Kembali ke masalah perdebatan,saya juga ga kalah ngotot. Membandingkan dengan seorang keponakan dan saudara suami yg sekolah di SD dekat rumah,yg menurut saya yg membantu mengerjakan PR mereka, kok ya jauh banget dibandinkan standar kemampuan calistung di SD tempat saya dulu menuntut ilmu. Akhirnya suami mencari jalan tengah,OK ke sekolah pilihan saya tapi setelah itu harus ikut program I’daad dari Ustadz Yusuf Mansyur. Cerita dilanjutkan lagi nanti karena harus dipotong urus anak

Belajar Berhijab (7 November 2010)

Ini cerita di awal saya mengenal istilah hijab di masa SMA sekitar 20 tahun lalu (hehehe ketahuan dech sudah tua), Sebagai remaja yang “cukup jauh” dari agama, saya ga ngerti yang namanya Rohis dan untuk apa Rohis. Waktu itu saya pikir cuma kegiatan belajar mengaji dan ga butuh lah hal itu,toch saya bisa baca Al Qur’an walo ga bertajwid sama sekali. Sholat pun masih bolong2 kala itu. Agama tak lebih hanya buat status di KTP. Saat itu saya lebih memilih ikut ekskul silat, ini untuk jaga diri aja karena tiap hari naik turun bus ke sekolah. Latihan diadakan tiap Rabu&Sabtu sore dan pastilah butuh waktu 1/2 jam untuk istirahat sholat Maghrib.
 
Pada saat yang sama ekskul lain yaitu taekwondo juga istirahat. Dan disana ada cowo terganteng di sekolahku,anak Panglima ABRI masa itu. Nah sebelum wudhu dan sholat, saya dan seorang teman perempuan,sepakat melakukan aksi membuka hijab (tirai panjang) yang memisahkan tempat sholat Ikhwan dan Akhwat. Kami bilang,”Nutup-nutupin aja dari pemandangan bagus (cowo terganteng yg sedang sholat saat itu).” Tindakan yang gubraks dan sangat konyol kalo saya pikir sekarang. Dan langsung saat itu juga kami disemprot omelan oleh senior2 pengasuh rohis.
 
Dan ups kami malah ngotot membantah ga mau nutup dan membiarkan mereka yg nutup kalo mereka mau nutup lagi. Cengengesan dan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Namun kejadian itu membuat saya melihat kegiatan rohis yg berlangsung saat itu. Dan hmm mulai tertarik bahkan sampai kuliah. Ternyata banyak hal yg saya tidak ketahui tentang agama saya. Mungkin saya tipe orang yang mesti “diomelin ” dulu ya baru sadar. Ah cowo ganteng, dikau membuat saya melek tentang hijab.

Hati Seluas Samudra (9 Agustus 2010)

Menjelang memasuki bulan Ramadhan, saya merasa masih harus belajar banyak untuk memaafkan. Dan buat saya, guru yg dekat dan bisa menjadi contoh adalah Papa saya.

Terlahir sebagai “darah ndalem” dan benar2 dilahirkan di keraton, tidaklah membuat hidupnya mudah. Perceraian kedua orang tuanya, membuat ia&adiknya semata wayang dibuang ke tengah sawah dekat rumah seorang abdi dalem. Ini agar mempermulus pernikahan kembali Eyang Kakung dengan seorang putri bangsawan. Eyang putri pun menikah kembali dengan seorang tentara.

Papa kemudian terpisah dari adiknya. Ia hidup dari 1 keluarga&berpindah ke keluarga lain, hanya agar bisa disekolahkan. Tak heran, meskipun seorang lelaki, Papa jadi ahli masak, cuci, dan membersihkan rumah. Kehidupan memaksa ia mencari uang sendiri untuk membiayai hidupnya.

 Kelembutan&kasih sayang ALLAH SWT yg memperbaiki hidupnya. Setamat SMP ,ia merantau ke Jakarta. Mencari kerja kantoran agar bisa sekolah di SMA. Ijazah SMP membuat tolakan menjadi santapan harian. Siapa nyana, kebiasaannya untuk menolong seorang nenek yg menjadi tetangganya, membacakan surat dari keluarga (karena si nenek tidak bisa membaca) dan tiap malam Jum’at dzikir Al Fatihah 1000x ditemani lilin( masih susah listrik), berbuah sangat manis.

Berbulan2 kegiatan tersebut dilakukannya hanya karena kasihan pada si nenek tetangganya tersebut. Sampai suatu hari, ia dipanggil untuk diperkenalkan dengan salah 1 keponakan si nenek. Bapak tersebut menyuruhnya untuk datang ke kantor si Bapak, di suatu BUMN ternama, keesokan harinya untuk melamar kerja. Dengan membawa ijazah SMP, Papa datang ke kantor tersebut untuk tes kerja. Sesampainya di kantor tujuan. Bukan tes kerja yg dihadapi, melainkan ia langsung diterima jadi staff tanpa tes apapun juga. Gajinya tiap bulan mengantarnya ke SMA, bahkan bisa kuliah di UI.

Kehidupan&jabatannya terus menanjak sampai ia pensiun. Dendamkah Papa pada kedua orang tuanya yg telah mebuangnya? Tidak sama sekali. Di masa Eyang Kakung tua, Papa mengunjunginya seminggu sekali, membawakan makanan, uang& mengajak berlibur, sampai Eyang Kakung wafat. Dan sekarang, Eyang Putri sudah beberapa tahun di rumah kami. Di saat Eyang berumur diatas 90 tahun, Papa dengan telaten merawatnya, membantu memandikan, membuat makan, menyuapi dan lain sebagainya.

Melihat hal ini saya tidak habis pikir, ya mungkin karena hati saya belum selembut Papa. Perjuangan melembutkan hati dan memaafkan memang masih harus saya tekuni. Papa… bagiku hatimu seluas samudera.