FB_IMG_1543794981105

FB_IMG_1543794991356

FB_IMG_1543761774933Komunitas Ibu Muda Indonesia

Thanks To me

Tahun 2018 adalah tahun pertama saya bergabung dengan Komunitas Ibu Muda Indonesia ( KIMI). Tahun yg penuh gejolakdi hati saya. Tahun saya benar-benar berusaha menkadi pribadi bertaqwa yg rasional dan BAHAGIA

Kenapa kata BAHAGIA, saya tulis dalam huruf besar? Karena di tahun ini saya belajar menjalani apa yg saya mau dan saya suka tanpa terlalu merasa tidak enak dengam orang lain.

Gosokkan-gosokkan KIMI yg digawangi oleh Teh Asri Fitriasari yg biasa kami panggil dengan sebutan Bu Popon dan Teh Bebeb Nani Kurniasari, benar-benar makjleb dan membuat ternganga.

Januari

Di bulan ini para anggota mendapat tantangan beberes. Diri saya ini jujur paling malas dan banyak alasan kalau disuruh beberes.  Namun dengan terpaksa karena tuntutan tugas, dikerjakanlah tugas tersebut. Dan hasilnya….memyenangkan melihat lemari dan dompet rapih. Toyor kepala sendiri.

 

Februari

Di bulan ini saya menjadi Drama Queen dengan challenge Ke Dokter Gigi. Oh My GOD. Dokter gigi adalah profesi yg paling saya hindari untuk bertemu. Trauma karena salah tindakan pencabutan gigi belakang di suatu praktek Dokter Gigi membuat saya trauma.

Saat bertemu Dokter Gigi saya nangis-nangis lebay. ALHAMDULILLAH, kali ini bertemu Dokter Gigi yg tepat, yg super sabar. Pemeriksaan dan scalling pun berlangsung mulus. Sayangnya foto hasil challenge beberes dan ke dokter gigi terhapus karena kegaptekkan saya saat mau bebersih di mobile phone baru. Nyesel ya pasti. Lenyap karena saya pun tidak menyimpan di social media.

Maret

Bulan Maret kami ditantang membaca buku karya Sophie Navita, Hati Yang Gembira adalah Obat. Tantangan pertama yg saya hadapi. Bukunya habis di 2 Gramedia yg saya temui. Huaaa. Di sini saya ditantang untuk untuk berami nanya ke anggota group yg mayoritas belym saya kenal, di mana kuranya tuch buku masih available untuk dibeli. Dan akhirnya dapat info bahwa buky tersebut ada di sebuat toko buku online. Dalam hitungan menit, ALHAMDULILLAH, saya bisa dapat itu buku. Lansung bikin reviewnya.

Tantangan kedua, tulisan saya jelek, ga pakai pargraf, karena saya ga paham bagaimana memunculkan tombol enter di tulisan WA. Dan saya yg baperan, saat dikritik( eh ngaku merasa tertantang untuk belajar sendiri memunculkan tanda enter di WA, berbekal mister google. ALHAMDULULLAH, kritikan yg berbuah manis. Terima lasih para Soul Sister.

April

Tantangan menghadiri seminar atau workshop yg disuka. Tantangan ini paling asyik dan mudah buat saya yg memang gemar datang ke seminar dan workshop parenting. Jadi tiket 2 seminar dan workshop parenting yg saya sudah beli di bulan Maret, bisa menjadi senjata menaklukkan tantangan ini. Kadi swlama di group KIMI, tantangan ini yg paling mudah saya kerjakan.

Seminar pertama yg saya hadiri adalah” Sharing Bersama Ibu Elly Rismn untuk peserta KBBM, DKS dan Persari. Di semunar ini saya mereview kembali cara Komunikasi Benar Baik dan Menyenangkan. Yg jujur masih jumpalitan saya pelaksanaannya. Terlalu banyak inner child yg harus saya kupas supaya bisa menerapkan KBBM ini. Harus “waras” dulu baru bisa menjadi Ibu yg tegas tapu menyenangkan.

Semunar kedya masih bersama.Ibu Elly Risman. Kalau seminar pertama diadakan di Gedung CEO Cilandak, maka seminar  kali ini diadakan di Depok. Si Hotel Bumi Wiyata. Bahasannya 7 Pilar Pengasuhan. Ikut semunar ini makin saya merasa harus kejar target pengasuhan. Eit target di sini target pengasuhan yg benar dan baik ya…

Pilar pertama saja sudah menyentak saya tentang kesiapan menjadi orty termasuk alasan kenapandulu nikah (makjleb).

Pilar selanjutnya tentang peran Ayah. Ini pun belum bisa kami laksanakan dengan benar-benar baik. Walaupun saat ini suami mulai mau meluangkan waktu untuk bermain dan belajar sama anak. Caranya dengam do’a dan meletakkan buku peran Ayah dalam keluarga di ruang tamu. ALHAMDULILLAH, suami baca. Nyengir bersyukur ALHAMDULILLAH, strategi berhasil.  Pilar selanjutnya kan saya bahas sendiri ( kalau sempat dan ga janji ya)

Mei

Challenge Belajar Cukup ” memaksa” saya ke dapur dan ” bersihin” lemari es.. Ya ampyun ternyata ada beberapa bahan makanan kadaluarsa yg masih saja saya simpan. Plus mau ga mau gosok noda-noda di lemari es yg sangat membandel. Harus dikorek plus ditaburi baking soda dulu. Lalu dibasuh air sabun dan jeruk nipis. Fotonya ga ada karena terhapus hilang dengan kegaptekkan saya.

Juni

Tantangan bulan Mei adalah  Prasangka baik. Kami ditantang untuk berani bertemu dengan anggota KIMI lain yg sama sekali belum pernah kami kenal. Dengan penyesuaian waktu ALHAMDULILLAH akhirnya didapat 2 jadwal pertemuan

Pertemuan pertama dengan Fitri, Ocha dan Era. Lokasi dipilih di Masjid Al Azhar. Masyaa ALLAH, ternyata tidak ada yg kebetulan. Tiga dari kami ternyata memiliki tantangan yg mirip di kehidupan kami. Jadi kami bisa saling belajar. Terima kasih Bu Popon dan bebeb Nani yg telah membuat tantangan ini.

Pertemuan kedua dengan Miss Rika. Seorang guru Bahasa Inggris. Ternyata kami memiliki masalah kesehatan yg mirip ( mirip ya bukan sama).

Di pertemuan ini saya mulai mempertumbangkan ikut Life Coaching dengan Mamak Irma Rahayu. Miss Rika sudah wawancara duluan. Dan sudah bayar. Sedangkan saya masih ragi begitu tahu biayanya ( mental korbam dan malas gerak banget ga sich). Oh ya pertemuan diadakan di Masjid Pondok Indah.

Juli & Agustus

Kali ini challenge-nya tentang innerchild. Makjleb banget. Tapi adl8 girang banget. Kami ditantang berfoto mewujudkan cita-cita impian kami yang tidak kesampaian.

Tantangan buat saya adalah komunilasi dengan suami yg karena suatu masalah sempat agak terganggu. Kenapa? Karena saya mau minta tolong suami tersayang untuk minta izin ke pengelola bangunan dan membantu foto. Maklum suami orangnya supel, mudah bergaul dengan berbagai tingkatan masyarakat. Sementara saya kaku, kayak kanebo kering.

ALHAMDULILLAH setelah komunikasi kami baik kembali dan lancar, jadilah saya difoto sebagai Insinyur  Sipil yg sedang menggarap bangunan. Love it.

Oh ya di bulan Juli saya mulai ikut Life Coaching, ALHAMDULILLAH, dan Agustus mulai membenahi penampilan. Jadi saat foto baju yg dikenakan layanlahbga jelek dan amburadul.

ALHAMDULILLAH juga di bulan Juli berkat kebaikan Bu Popn dan Bebeb Nani serta dorongan dari sahabat, Nian Isololipu, saya ikut Healing Woman di Bandung. Healing sekaligus refreshing di Boutique Hotel.

September

Istirahat. Karena tantangannya adalah Do What You Want. Dan bulan ini kesempatan bagi saya  untuk fokus dengan gosokkan perbaikan diri dari Mamak Irma Rahayu di Life Coaching.

Oktober

Challenge bulan ini belajar mendengarkan. Termasuk challenge yg saya tunggu-tunghu karena saya ingin banget lebih dekat dan akrab dengan anak sulung saya. Karena kebodohan dan ketidak enakkan saya pada permintaan ortu maka dari kecil dia tinggal sama orangbtua saya. Namun tetap tiap hari kami mengunjunginya. Tiap hari kami menemouh jarak 8 km agar tetap bisa bersamanya. Namun tetap saja khan dia tidak bisa sedekat adiknya yg memang tinggal sama kami.

Di akhir bulan ( kebiasaan buruk saya menunda kerjaan dan mengerjakan tantangan), akhirnya bisa ngobrol santai dengan si sulung. Dia cerita apa pun termasuk apa yg dia suka dan tidak suka dari lingkungan sekolah. Di sini saya juga pancing2, jodoh seperti apa sich yg dia bayangkan kalau dia nikah. Ups kejauhan ya. ALHAMDULILLAH, sejak tantanganntersebut dikerjakan, kami makin akrab. Tantangan ini juga mengurangi rasa irinya terhadapa adiknya. ALHAMDULILLAH.

November

Tantangan ini paling telat saya kerjakan. Baru saya kerjakan di Desember awal. Karena…saya lupa password blog saya ini, sangking lamanya tidak nulis di blog.

Judul tantangannya Thaks To Me. Berterimakasih pada diri sendiri karena sudah bersedia digosok, berusaha memperbaiki diri menjadi makhluk ALLAH SUBHANAAHU WATA’ALAA yang bersyukur dan bahagia.

Tantangannya menggosok diri untuk kembali nulis di blog yg telah lama mati suri. Alhirnya terwujud juga danbterselesaikan walau sangat telat.

Maafbya BuPopon

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

KEGUGURAN BERULANG

Tulisan ini bukan sebuah tulisan ilmiah dari sebuah jurnal. Murni hanya pemaparan pengalaman pribadi.

Setelah kelahiran anak pertama secara SC plus pengambilan kista 15 cm di ovarium kanan dan 7,5 cm di ovarium kiri, saya telah hamil lagi sebanyak tiga kali berturut-turut yang berakhir dengan keguguran. Ketiganya di usia kehamilan 8 minggu. Keguguran pertama di bulan Juni 2010, keguguran kedua Juni 2011 dan terakhir Desember 2011, walaupun telah memakai 2 macam obat peguat kandungan yang cukup menguras kantong.

Trauma tentu saja. Apalagi sebenarnya ada vonis dari dokter bahwa saya ga mungkin hamil lagi karena ovarium saya telah rusak.

SUBHANALLAH, ALLAH SWT yang MAHA PENGASIH dan MAHA PENYAYANG, saya masih diberi kesempatan hamil lagi. Trauma saya justru membuat saya penasaran browsing sana sini agar pengalaman buruk tidak berulang di kehamilan sekarang.

Dari sebuah milis ASI di FB, saya mendapat pengetahuah tentang hadist RASULULLAH SAW mengenai kurma untuk ibu hamil. Tujuh kurma di pagi hari, tujuh kurma di siang hari dan tujuh kurma di malam hari. Karena ingin sekali sehat, dibela-belain lah beli Ajwa. Bagus tapi mahal. Hanya bisa beli setengah kilo aja. Lalu untuk selanjutnya saya minum sari kurma (tapi yang dalam jerigen dari Arab). Selanjutnya setelah masuk trimester kedua, saya hanya makan kurma biasa.

Selain itu seminggu sekali saya terapi totok kaki di Kemanggisan. Sakit, tapi ALHAMDULILLAH, berdampak baik. Tidak ada lagi keputihan dan flek.

Dari salah satu milis FB tentang Gentle Birth, saya menemukan blog salah satu adminnya. Blog Bidan Kita. Salah   satu tulisan di blog tersebut membahas tentang keguguran berulang. Dari sana saya belajar relaksasi, Makin rajin berdzikir lengkap dengan sugesti positif bahwa kandungan ini akan kuat. Bukankan ALLAH SWT sesuai dengan persangkaan hamba-NYA ?

ALHAMDULILLAH, ketiga upaya ini membuat kandungan saya sehat sampai sekarang. Tanpa obat-obatan dan tetap jalan kaki, naik Transjakarta dan angkot untuk pergi-pulang kantor.

Semoga pengalaman ini bisa menyemangati orang-orang yang memiliki pengalaman seperti saya.

Kursi Prioritas

Penumpang bus Trans  Jakarta pasti paham dengan judul tulisan di atas. Empat buah kursi prioritas untuk penumpang prioritas (manula, ibu hamil dan orang yang membawa anak kecil). Ada stiker besar di atas keempat kursi tersebut.

Tapi beda dengan di Luar Negeri yang orang-orangnya memiliki kesadaran tinggi, dimana kursi akan dibiarkan kosong jika penumpang tersebut tidak termasuk kriteria penumpang prioritas. Mereka tetap berdiri walau empat kursi tersebut kosong.

Bagaimana dengan di Jakarta? Kursi tersebut akan langsung diduduki siapapun yang masuk ke Trans Jakarta. Ga peduli dia adalah pria muda dan kekar. Parahnya lagi ga semua petugas Trans Jakarta yang berani negur para penumpang tersebut duduk di kursi prioritas walau jelas tampak ada ibu-ibu tua dan perempuan hamil di dekat mereka.

Ini menjadi PR saya tiap hari. Mengatur strategi agar dapat duduk di bus Trans Jakarta. Pengalaman keguguran 3x berturut-turut jelas membuat saya harus lebih berhati-hati. Dari awal kehamilan kali ini samapi sekarang (17 minggu), strategi harus dipasang. Perut yang belum terlalu terlihat membuncit membuat ga banyak orang tahu kondisi kehamilan saya. Bahkan untuk mendapat tempat berdiri yang bisa menyandarkan badan aja, (walau sudah bilang kalau saya bumil), tetap aja dengan pandangan sebel dari orang-orang tersebut (#khususnya pria muda yang ga pengalaman punya istri hamil kali ya#).

Strategi yang saya pasang adalah berangkat sangat pagi dan terus berdzikir agar dimudahkan ALLAH SWT untuk mendapat tempat duduk. Sepanjang jalan. Strategi berikutnya berusaha mendapat antrean di depan, agar saat bus berhenti, saya bisa segera mencari kursi kosong.

Pulang kantor pun jauh sebelum jam bubaran kantor. Paling  telat jam 15.15 saya sudah bergegas ke halte. ALHAMDULILLAH, bersyukur strategi ini banyak suksesnya.

Namun saya berharap, jika pemerintah ingin makin banyak orang beralih ke kendaraan umum, kondisi seperti ini kiranya bisa diatasi demi kenyamanan penumpang. Waktu kedatangan antar bus juga jangan terlalu lama agar tidak semakin banyak penumpang berdesakan di halte. Jika kondisi ini tidak segera diatasi ,wajar kiranya makin banyak orang yang enggan beralih ke kendaraan umum.

 

Belajar Menempatkan Diri Sebagai Hamba ALLAH SWT

Belajar menempatkan diri sebagai hamba ALLAH SWT ini yg saya maksudkan dalam curhat kali ini. Benar-benar curhat tentang diri sendiri dan tidak ada maksud setitik pun untuk menyinggung orang lain.

Terlahir dari keluarga yg belajar agama seadanya, ngaji membaca Al Qu’an, sedikit fiqih dan akhlaq, tapi ga ketat melaksanakan perintah ALLAH SWT secara kaffah (CMIIW please kalau salah ejaannya), membuat saya terkaget kaget setelah menikah. Rupanya ini rahasia ALLAH SWT memilihkan suami untuk saya. Suami bukan tipe pemarah bahkan cenderung humoris. Tapi…kalau perkara melalaikan hak ALLAH SWT, duh benar-benar dia sangat marah. Hal yang (tadinya) saya anggap berlebihan, Contohnya jika saya sholat tidak tepat waktu (padahal baru 1 jam setelah adzan Ashar berkumandang. Asli dia sangat-sangat marah.

Dibandingkan dirinya, saya akui saya bagaikan anak yg baru belajar agama. Sebelum adzan berkumandang di tiap sholat 5 waktu, suami saya selalu mandi, memakai pakaian terbaiknya dan wangi-wangian dan cerah ceria ke Masjid. Padahal kalau ke tempat lain, dia ga akan mau pakai wangi-wangian dan baju terbaik.

Lalu masalah kebiasaan saya nonton televisi sampai malam, sehingga saya belum rapi pas adzan Subuh berkumandang, padahal dia sudah rapi wangi, sudah Sholat sunnah dan siap ke Masjid,wah bisa tak ada ampun, teguran keras bahkan sajadah sudah dia gelar untuk saya dan pasti dibangunkan paksa. Dan akan marah kalau jam 5 belum Sholat Subuh karena buat dia sholat ya harus teng tong setelah adzan berkumandang.

Bahkan sampai memeriksa jadwal membaca Al Qur’an. Menempatkan sebagai hamba ALLAH SWT itu ternyata kuncinya dan kok ya bisa pas dengan tema ceramah Shubuh di TV pagi ini. Di ceramah pagi ini Sang Ustadz mengatakan kalau kita ikhlas beribadah pada ALLAH SWT, maka kebutuhan kita pasti akan ALLAH SWT penuhi/cukupkan walau kita miskin dengan cara yg kita ga sangka(CMIIW). Ikhlas menempatkan diri sebagai hamba ALLAH SWT , itu PR yg masih harus saya kerjakan.

Debat Suami Isteri Mengenai Pilihan Sekolah Anak, Bagian Kedua (12 Desember 2010)

Tadinya sempat tenang sejenak setelah menyepakati anak harus masuk I’daad yg dikelola Ustadz Yusuf Mansyur setelah dia tamat SD. Namun dalam silaturrohiim ‘Iedhul Fithri kemarin muncul perdebatan baru.

Diawali cerita sepupu suami yg anaknya dipesantrenkan dari kecil. Si anak kelas 2 SD aja sudah hafal 2 juz& SUBHANALLAH, rezeki orang tuanya pun jadi berlimpah dengan rahmat ALLAH SWT. Suami bilang hal itu jadi contoh, bahwa ALLAH SWT pasti meberi berbagai kemudahan kalau kita menempatkan anak kita di jalan ALLAH. Cuma sebagai ibu, jok saya ga tega ya, jauh dari anak yg masih SD pula.

Mulailah saya bergerilya mencari SD yg bisa memenuhi kriteria kami berdua tanpa anak harus dipesantrenkan dari SD. Ketemulah sebuah SD, yg 1 kelas 2 guru, menerapkan pendidikan berdasarkan masa tumbuh kembang anak, tiap tahun anak hafal 1 juz, dan di kelas 5 SD bisa bikin paper dalam bahasa ARAB’dan hafal minimal 100 hadist termasuk 40 hadits Arbain (betul ga ya nulisnya?).

ALhamdulillah, ternyata di suatu semiar pendidkan anak ,saya ketemu orang tua yg menyekolahkan anaknya di SDIT yg lagi saya cari infonya. Dan positif, guru-gurunya persuasif dan suasana belajar katanya menyenangkan. Suami pun kali ini setuju apalagi lokasinya ga jauh dari kantor saya. ALHAMDULILLAH, satu masalah disepakati solusinya, tinggal mulai berinvestasi untuk pembiyaannya. Untuk pemilihan investasi muncul debat baru, yg InsyaALLAH, ada solusinya:)

Debat Suami Isteri Mengenai Pilihan Sekolah Anak (12 Desember 2010)

Memang anak kami masih kecil. 2 tahun awal tahun depan, namun perdebatan kamu selaku orang tua terhadap pilihan sekolah sudah dimulai dari usianya 1 tahun. Perdebatan dipicu karena keinginan berbeda (yg juga dipicu latar belakang berbeda jauh). Suami inginnya anak di sekolah umum aja,yg pakai BOS, SMP baru dipesantrenkan. Sedang saya yg dari kecil sampai kuliah, ALHAMDULILLAH, selalu di sekolah negeri favorit, ngotot anak mengikuti jejak saya.

Lalu suami bilang,”Kita tetap harus orientasi pendidikan untuk bekal akhirat, karena dia nanti yg akan’mendoakan kita kalau kita sudah meninggal.” Jadi malah suami ingin anak ke sekolah berbasis agama atau ke pesantren. Mungkin mengingat saya juga bukan seorang ibu yg bisa menjadi madrasah yg baik bagi anak. Masalah tidak absen pengajian,baca Al Qur’an tiap hari termasuk dengan tadjwid yg benar saja saya masih harus diabsen suami secara rutin.

Kembali ke masalah perdebatan,saya juga ga kalah ngotot. Membandingkan dengan seorang keponakan dan saudara suami yg sekolah di SD dekat rumah,yg menurut saya yg membantu mengerjakan PR mereka, kok ya jauh banget dibandinkan standar kemampuan calistung di SD tempat saya dulu menuntut ilmu. Akhirnya suami mencari jalan tengah,OK ke sekolah pilihan saya tapi setelah itu harus ikut program I’daad dari Ustadz Yusuf Mansyur. Cerita dilanjutkan lagi nanti karena harus dipotong urus anak

Belajar Berhijab (7 November 2010)

Ini cerita di awal saya mengenal istilah hijab di masa SMA sekitar 20 tahun lalu (hehehe ketahuan dech sudah tua), Sebagai remaja yang “cukup jauh” dari agama, saya ga ngerti yang namanya Rohis dan untuk apa Rohis. Waktu itu saya pikir cuma kegiatan belajar mengaji dan ga butuh lah hal itu,toch saya bisa baca Al Qur’an walo ga bertajwid sama sekali. Sholat pun masih bolong2 kala itu. Agama tak lebih hanya buat status di KTP. Saat itu saya lebih memilih ikut ekskul silat, ini untuk jaga diri aja karena tiap hari naik turun bus ke sekolah. Latihan diadakan tiap Rabu&Sabtu sore dan pastilah butuh waktu 1/2 jam untuk istirahat sholat Maghrib.
 
Pada saat yang sama ekskul lain yaitu taekwondo juga istirahat. Dan disana ada cowo terganteng di sekolahku,anak Panglima ABRI masa itu. Nah sebelum wudhu dan sholat, saya dan seorang teman perempuan,sepakat melakukan aksi membuka hijab (tirai panjang) yang memisahkan tempat sholat Ikhwan dan Akhwat. Kami bilang,”Nutup-nutupin aja dari pemandangan bagus (cowo terganteng yg sedang sholat saat itu).” Tindakan yang gubraks dan sangat konyol kalo saya pikir sekarang. Dan langsung saat itu juga kami disemprot omelan oleh senior2 pengasuh rohis.
 
Dan ups kami malah ngotot membantah ga mau nutup dan membiarkan mereka yg nutup kalo mereka mau nutup lagi. Cengengesan dan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Namun kejadian itu membuat saya melihat kegiatan rohis yg berlangsung saat itu. Dan hmm mulai tertarik bahkan sampai kuliah. Ternyata banyak hal yg saya tidak ketahui tentang agama saya. Mungkin saya tipe orang yang mesti “diomelin ” dulu ya baru sadar. Ah cowo ganteng, dikau membuat saya melek tentang hijab.